Mengamankan Jaringan yang Terkoneksi ke Internet dengan Firewall
Memiliki Jaringan LAN yang terkoneksi ke internet tentu saja
memiliki resiko. Penyusupan, remoting, atau bentuk lainnya yang kerap
mengganggu pengguna jaringan. Namun, hal tersebut dapat diatasi dengan
menggunakan firewall. Disini, saya akan memberikan tutorial untuk
mengamankan jaringan LAN yang terkoneksi ke Internet dengan menggunakan iptables yang terdapat pada sistem operasi Ubuntu (Tutorial ini menggunakan Ubuntu Server)
Kasusnya seperti ini :

Terdapat sebuah LAN dengan Network Address 192.168.0.0/24 yang terkoneksi ke internet dengan melewati sebuah router. Router ini berfungsi sebagai firewall yang memiliki 2 interface. eth0 (Mengarah ke Internet) dengan IP 200.10.20.1/30 dan eth1 (Mengarah ke LAN) dengan IP 192.168.0.1./24 Firewall akan diatur agar memblokir semua akses SSH dan FTP dari Internet ke LAN. Pada tutorial ini, saya mengasumsikan terdapat sebuah PC yang terletak di internet (PC 1) dengan IP 200.10.20.2/30 dan sebuah PC yang terletak di LAN (PC 2) dengan IP 192.168.0.1/24. Hal ini bertujuan untuk memudahkan percobaan di virtual machine. Berikut adalah konfigurasinya..
Sesuaikan terlebih dahulu pengalamatan berdasarkan topologi :
Sebelumnya, pastikan PC 1 dapat melakukan SSH Remoting dan akses FTP ke PC 2.
:: Pengujian SSH Remoting


:: Pengujian akses FTP


Jika SSH dan FTP berjalan normal, maka saatnya untuk melakukan konfigurasi iptables
:: Untuk memblokir SSH Remoting
iptables -A FORWARD -s 0.0.0.0/0 -d 192.168.0.0/24 -p tcp –dport 22 -j DROP

:: Untuk memblokir akses FTP
iptables –A FORWARD -s 0.0.0.0/0 -d 192.168.0.0/24 -p tcp –dport 21 -j DROP

Konfigurasi di atas adalah untuk memblokir akses SSH dan FTP dari Internet ke LAN. Setelah konfigurasi selesai, lakukan pengujian dengan melakukan SSH Remoting dan akses FTP dari PC 1 ke PC 2.
::Pengujian SSH Remoting (gagal)

:: Pengujian akses FTP (gagal)

Jika akses SSH dan FTP gagal, berarti konfigurasi untuk melindungi LAN dari akses SSH dan FTP telah berhasil. Anda dapat melindungi aplikasi lainnya (Tidak hanya SSH dan FTP), anda hanya perlu mengubah port menjadi port yang digunakan oleh aplikasi tersebut.
Selamat Mencoba !
ranto
Teknik Komputer dan Jaringan SMK Teladan Sumut 2
untuk Indonesia
Kasusnya seperti ini :

Terdapat sebuah LAN dengan Network Address 192.168.0.0/24 yang terkoneksi ke internet dengan melewati sebuah router. Router ini berfungsi sebagai firewall yang memiliki 2 interface. eth0 (Mengarah ke Internet) dengan IP 200.10.20.1/30 dan eth1 (Mengarah ke LAN) dengan IP 192.168.0.1./24 Firewall akan diatur agar memblokir semua akses SSH dan FTP dari Internet ke LAN. Pada tutorial ini, saya mengasumsikan terdapat sebuah PC yang terletak di internet (PC 1) dengan IP 200.10.20.2/30 dan sebuah PC yang terletak di LAN (PC 2) dengan IP 192.168.0.1/24. Hal ini bertujuan untuk memudahkan percobaan di virtual machine. Berikut adalah konfigurasinya..
Sesuaikan terlebih dahulu pengalamatan berdasarkan topologi :
Sebelumnya, pastikan PC 1 dapat melakukan SSH Remoting dan akses FTP ke PC 2.
:: Pengujian SSH Remoting

:: Pengujian akses FTP


Jika SSH dan FTP berjalan normal, maka saatnya untuk melakukan konfigurasi iptables
:: Untuk memblokir SSH Remoting
iptables -A FORWARD -s 0.0.0.0/0 -d 192.168.0.0/24 -p tcp –dport 22 -j DROP

:: Untuk memblokir akses FTP
iptables –A FORWARD -s 0.0.0.0/0 -d 192.168.0.0/24 -p tcp –dport 21 -j DROP

Konfigurasi di atas adalah untuk memblokir akses SSH dan FTP dari Internet ke LAN. Setelah konfigurasi selesai, lakukan pengujian dengan melakukan SSH Remoting dan akses FTP dari PC 1 ke PC 2.
::Pengujian SSH Remoting (gagal)

:: Pengujian akses FTP (gagal)

Jika akses SSH dan FTP gagal, berarti konfigurasi untuk melindungi LAN dari akses SSH dan FTP telah berhasil. Anda dapat melindungi aplikasi lainnya (Tidak hanya SSH dan FTP), anda hanya perlu mengubah port menjadi port yang digunakan oleh aplikasi tersebut.
Selamat Mencoba !
ranto
Teknik Komputer dan Jaringan SMK Teladan Sumut 2
untuk Indonesia
Konfigurasi Dynamic NAT
30/04/2012
Bagi yang belum baca Konfigurasi Static NAT, silahkan baca dulu, soalnya hampir mirip-mirip :)
Jika pada Static NAT telah ditentukan akan menyamarkan dengan IP yang mana, pada Dynamic NAT, IP untuk penyamaran (Masquerading) tidak ditentukan, kita hanya perlu menentukan akan menggunakan IP yang ada di interface mana.
Contoh :
Jika kita menggunakan Interface eth1 sebagai Output, maka IP yang melewati router akan disamarkan dengan menggunakan IP eth1. Jika eth1 memiliki beberapa IP, maka IP lainnya akan berfungsi sebagai IP cadangan jika sewaktu-waktu IP utama tidak dapat digunakan.
Prolognya cukup, sekarang langsung konfigurasinya..
Jadi, saya menggunakan topologi seperti ini :

Kasusnya seperti ini :
Dalam sebuah jaringan, terdapat PC Client, Router Firewall, dan Web Server. Karena suatu hal, PC Client diharuskan untuk mengakses Web Server, namun menggunakan IP 10.10.10.254. Maka, firewall akan diatur agar menyamarkan IP 20.20.20.1 ke IP 10.10.10.254.
w3m 10.10.10.1


Jika muncul halaman web, berarti pengujian telah berhasil. Selanjutnya cek file /var/log/apache2/access.log pada Web Server untuk melihat IP mana yang telah mengakses Web Server.
Terlihat bahwa IP 20.20.20.1 baru saja mengakses Web Server. Sekarang lakukan konfigurasi untuk menyamarkan IP.
iptables -t nat -A POSTROUTING -o eth1 -j MASQUERADE

Lalu cek dengan iptables -t nat -L

Setelah itu, akses kembali HTTP pada Web Server dari PC Client, lalu cek file log apache.


Di file log apache terlihat bahwa PC Client mengakses Web Server dengan menggunakan IP yang terdapat pada eth1 router, yakni 10.10.10.254
Selamat Mencoba !
Ghiffary Thalib
Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 1 Cimahi
untuk Indonesia
Jika pada Static NAT telah ditentukan akan menyamarkan dengan IP yang mana, pada Dynamic NAT, IP untuk penyamaran (Masquerading) tidak ditentukan, kita hanya perlu menentukan akan menggunakan IP yang ada di interface mana.
Contoh :
Jika kita menggunakan Interface eth1 sebagai Output, maka IP yang melewati router akan disamarkan dengan menggunakan IP eth1. Jika eth1 memiliki beberapa IP, maka IP lainnya akan berfungsi sebagai IP cadangan jika sewaktu-waktu IP utama tidak dapat digunakan.
Prolognya cukup, sekarang langsung konfigurasinya..
Jadi, saya menggunakan topologi seperti ini :

Kasusnya seperti ini :
Dalam sebuah jaringan, terdapat PC Client, Router Firewall, dan Web Server. Karena suatu hal, PC Client diharuskan untuk mengakses Web Server, namun menggunakan IP 10.10.10.254. Maka, firewall akan diatur agar menyamarkan IP 20.20.20.1 ke IP 10.10.10.254.
Pertama, atur pengalamatan terlebih dahulu, agar setiap host dapat terkoneksi.
Pengalamatan pada PC Client
Lakukan pengujian HTTP pada Web Server dari PC Client :
Pengalamatan pada PC Clientw3m 10.10.10.1


Jika muncul halaman web, berarti pengujian telah berhasil. Selanjutnya cek file /var/log/apache2/access.log pada Web Server untuk melihat IP mana yang telah mengakses Web Server.
Terlihat bahwa IP 20.20.20.1 baru saja mengakses Web Server. Sekarang lakukan konfigurasi untuk menyamarkan IP.iptables -t nat -A POSTROUTING -o eth1 -j MASQUERADE

Lalu cek dengan iptables -t nat -L

Setelah itu, akses kembali HTTP pada Web Server dari PC Client, lalu cek file log apache.


Di file log apache terlihat bahwa PC Client mengakses Web Server dengan menggunakan IP yang terdapat pada eth1 router, yakni 10.10.10.254
Selamat Mencoba !
Ghiffary Thalib
Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 1 Cimahi
untuk Indonesia
Konfigurasi Static NAT
30/04/2012
NAT atau Network Address Translation adalah suatu metode untuk
menyamarkan suatu IP dengan IP lainnya untuk dapat mengakses jaringan
lain. Metode seperti ini biasa diterapkan untuk warnet, yang memiliki 1
IP Public dan beberapa IP Private. Agar dapat mengakses internet, maka
seluruh IP Private akan disamarkan menjadi IP Public saat mengakses
internet.
Disini, saya akan memberikan tutorial untuk konfigurasi Static NAT pada sistem operasi Ubuntu Server dengan menggunakan iptables.
Berikut ini adalah topologi yang saya gunakan untuk percobaan Static NAT :

Kasusnya seperti ini.. :
Terdapat sebuah jaringan dengan sebuah PC Client, Router Firewall, dan Web Server. Karena suatu hal, PC dengan IP 10.10.10.1 diharuskan mengakses Web Server, namun dengan menggunakan IP 20.20.20.254. Maka konfigurasi pada firewall adalah seperti berikut…
Pengalamatan pada Web Server
Setelah semua host terkoneksi, lakukan pengujian HTTP dari PC Client ke Web Server :
w3m 20.20.20.1


Jika muncul tampilan halaman web, maka pengujian HTTP berhasil, sekarang lihat isi file /var/log/apache2/access.log pada Web Server untuk melihat catatan IP mana saja yang mengakses HTTP pada Web Server.

Dari gambar atas, terlihat bahwa IP 10.10.10.1 mengakses HTTP pada Web Server sebanyak 4 kali. Selanjutnya, saya akan melakukan konfigurasi untuk menyamarkan IP tersebut dengan IP 20.20.20.254.
Lakukan perintah berikut sebagai konfigurasi Static NAT :
iptables -t nat -A POSTROUTING -s 10.10.10.1 -o eth1 -p tcp –dport 80 -j SNAT –to-source 20.20.20.254

Pastikan rule sudah terdaftar dengan perintah iptables -L

Lalu, akses lagi HTTP pada Web Server dari PC Client menggunakan W3M :
w3m 20.20.20.1


Lalu, cek lagi log apache di Web Server :
Jika sebelumnya IP yang digunakan adalah 10.10.10.1 maka sekarang PC Client mengakses Web Server dengan menggunakan IP 20.20.20.254 yang merupakan IP Router.
Selamat Mencoba !
Ghiffary Thalib
Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 1 Cimahi
untuk Indonesia
Disini, saya akan memberikan tutorial untuk konfigurasi Static NAT pada sistem operasi Ubuntu Server dengan menggunakan iptables.
Berikut ini adalah topologi yang saya gunakan untuk percobaan Static NAT :

Kasusnya seperti ini.. :
Terdapat sebuah jaringan dengan sebuah PC Client, Router Firewall, dan Web Server. Karena suatu hal, PC dengan IP 10.10.10.1 diharuskan mengakses Web Server, namun dengan menggunakan IP 20.20.20.254. Maka konfigurasi pada firewall adalah seperti berikut…
Sebelumnya, lakukan konfigurasi pengalamatan agar sesuai dengan topologi.
Pengalamatan pada PC Client
Pengalamatan pada PC Client
Pengalamatan pada Web Serverw3m 20.20.20.1


Jika muncul tampilan halaman web, maka pengujian HTTP berhasil, sekarang lihat isi file /var/log/apache2/access.log pada Web Server untuk melihat catatan IP mana saja yang mengakses HTTP pada Web Server.

Dari gambar atas, terlihat bahwa IP 10.10.10.1 mengakses HTTP pada Web Server sebanyak 4 kali. Selanjutnya, saya akan melakukan konfigurasi untuk menyamarkan IP tersebut dengan IP 20.20.20.254.
Lakukan perintah berikut sebagai konfigurasi Static NAT :
iptables -t nat -A POSTROUTING -s 10.10.10.1 -o eth1 -p tcp –dport 80 -j SNAT –to-source 20.20.20.254

Pastikan rule sudah terdaftar dengan perintah iptables -L

Lalu, akses lagi HTTP pada Web Server dari PC Client menggunakan W3M :
w3m 20.20.20.1


Lalu, cek lagi log apache di Web Server :

Jika sebelumnya IP yang digunakan adalah 10.10.10.1 maka sekarang PC Client mengakses Web Server dengan menggunakan IP 20.20.20.254 yang merupakan IP Router.
Selamat Mencoba !
Ghiffary Thalib
Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 1 Cimahi
untuk Indonesia
Memasang Firewall pada Jaringan
29/04/2012
Kali ini, saya akan memberikan tutorial mengenai cara memasang
Firewall pada jaringan. Disini saya akan menggunakan sistem operasi
Ubuntu Server dan iptables untuk konfigurasi Firewall. Untuk lebih
jelasnya, lanjut saja..
Topologi untuk percobaan kali ini adalah seperti gambar berikut :

Kasusnya seperti ini :
Pada sebuah jaringan seperti gambar di atas, terdapat 3 host. PC Client, Firewall, dan Web Server. PC Client tidak diperbolehkan untuk melakukan remote ke Firewall. PC Client dan Firewall tidak dapat mengakses HTTP pada Web Server.
Berikut adalah konfigurasinya :
Pertama, atur pengalamatan terlebih dahulu, seperti pada gambar berikut :

:: Lakukan Remote SSH dari PC Client ke Router Firewall

:: Lakukan akses HTTP dari Client dan Router ke Web Server


Lakukan perintah berikut di Router Firewall :

Lakukan pengujian SSH dan HTTP sekali lagi, jika akses gagal, maka konfigurasi iptables berhasil.

Dengan menggunakan iptables, administrator jaringan dapat mengatur layanan apa saja yang dapat digunakan atau yang dilarang bagi clientnya.
Selamat Mencoba !
Ghiffary Thalib
Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 1 Cimahi
untuk Indonesia
Topologi untuk percobaan kali ini adalah seperti gambar berikut :

Kasusnya seperti ini :
Pada sebuah jaringan seperti gambar di atas, terdapat 3 host. PC Client, Firewall, dan Web Server. PC Client tidak diperbolehkan untuk melakukan remote ke Firewall. PC Client dan Firewall tidak dapat mengakses HTTP pada Web Server.
Berikut adalah konfigurasinya :
Pertama, atur pengalamatan terlebih dahulu, seperti pada gambar berikut :

Pengalamatan pada PC Client
Pengalamatan pada Web Server
Pengalamatan pada Router Firewall
Setelah semua host terkoneksi, lakukan pengujian SSH dan HTTP berikut ::: Lakukan Remote SSH dari PC Client ke Router Firewall

:: Lakukan akses HTTP dari Client dan Router ke Web Server

Dari Client

Dari Router
Jika berhasil, maka saatnya untuk memblokir akses SSH dan HTTP sesuai kasus yang telah disebutkan. Caranya adalah…Lakukan perintah berikut di Router Firewall :

Lakukan pengujian SSH dan HTTP sekali lagi, jika akses gagal, maka konfigurasi iptables berhasil.

Dengan menggunakan iptables, administrator jaringan dapat mengatur layanan apa saja yang dapat digunakan atau yang dilarang bagi clientnya.
Selamat Mencoba !
Ghiffary Thalib
Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 1 Cimahi
untuk Indonesia
Amankan PC dengan Personal Firewall
29/04/2012
Menggunakan sebuah PC yang terhubung ke jaringan tentu saja
memiliki resiko. Ada saja pihak yang memiliki niat buruk untuk menyusup
ke sebuah PC. Tapi, PC masih dapat dilindungi dengan Personal Firewall.
Saya akan membagikan cara untuk melindungi PC anda dengan menggunakan
Personal Firewall.
Kali ini, saya akan menerapkan Personal Firewall pada topologi berikut :

Disini saya menggunakan 2 buah Virtual Machine yang menggunakan sistem operasi Ubuntu Server. Salah satu PC sudah terinstal Apache Web Server, dan PC lainnya akan menjadi client yang mengakses web.
Kasusnya adalah :
Web Server dengan IP 172.16.16.1 akan memblokir akses web (HTTP:80) dari PC dengan IP 172.16.16.254 dengan menggunakan iptables
catatan : semua konfigurasi yang dilakukan adalah berbasis teks. jika anda melakukan konfigurasi menggunakan Ubuntu Desktop, lakukanlah perintah berikut pada terminal (Ctrl+alt+T)
Berikut ini adalah konfigurasi IP address dari kedua PC :

w3m 10.10.10.1

Jika berhasil, maka akan tampil halaman web :
(Gambar dibawah ini adalah halaman Web Server saya)

Jika halaman web terbuka tanpa error, berarti akses HTTP sudah berhasil. Sekarang, saya akan memblokir akses HTTP dari client ke Web Server agar client tidak dapat mengakses Web Server.
Untuk memblokir port 80 (HTTP), gunakan perintah berikut :
iptables -A INPUT -d 10.10.10.1 -s 10.10.10.254 -p tcp –dport 80 -j DROP

Lalu pastikan rule sudah terpasang dengan menggunakan perintah iptables -L

Coba akses lagi Web Server dengan menggunakan perintah w3m. Maka, hasilnya akan seperti berikut :

Halaman Web pada Web Server tidak dapat dibuka lagi, karena akses menuju IP 10.10.10.1 port 80 dari IP 10.10.10.254 telah diblokir menggunakan iptables. Sehingga, jika PC dengan IP 10.10.10.254 adalah PC milik penjahat, maka Web Server akan aman dari PC tersebut.
Selamat Mencoba !
Ghiffary Thalib
Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 1 Cimahi
untuk Indonesia
Kali ini, saya akan menerapkan Personal Firewall pada topologi berikut :

Disini saya menggunakan 2 buah Virtual Machine yang menggunakan sistem operasi Ubuntu Server. Salah satu PC sudah terinstal Apache Web Server, dan PC lainnya akan menjadi client yang mengakses web.
Kasusnya adalah :
Web Server dengan IP 172.16.16.1 akan memblokir akses web (HTTP:80) dari PC dengan IP 172.16.16.254 dengan menggunakan iptables
catatan : semua konfigurasi yang dilakukan adalah berbasis teks. jika anda melakukan konfigurasi menggunakan Ubuntu Desktop, lakukanlah perintah berikut pada terminal (Ctrl+alt+T)
Berikut ini adalah konfigurasi IP address dari kedua PC :

Konfigurasi pengalamatan Web Server
Konfigurasi pengalamatan PC Client
Selanjutnya, coba akses Web Server dari client menggunakan perintah w3m :w3m 10.10.10.1

Jika berhasil, maka akan tampil halaman web :
(Gambar dibawah ini adalah halaman Web Server saya)

Jika halaman web terbuka tanpa error, berarti akses HTTP sudah berhasil. Sekarang, saya akan memblokir akses HTTP dari client ke Web Server agar client tidak dapat mengakses Web Server.
Untuk memblokir port 80 (HTTP), gunakan perintah berikut :
iptables -A INPUT -d 10.10.10.1 -s 10.10.10.254 -p tcp –dport 80 -j DROP

Lalu pastikan rule sudah terpasang dengan menggunakan perintah iptables -L

Coba akses lagi Web Server dengan menggunakan perintah w3m. Maka, hasilnya akan seperti berikut :

Halaman Web pada Web Server tidak dapat dibuka lagi, karena akses menuju IP 10.10.10.1 port 80 dari IP 10.10.10.254 telah diblokir menggunakan iptables. Sehingga, jika PC dengan IP 10.10.10.254 adalah PC milik penjahat, maka Web Server akan aman dari PC tersebut.
Selamat Mencoba !
Ghiffary Thalib
Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 1 Cimahi
untuk Indonesia
OSI Layer
01/08/2011
Model referensi OSI adalah 7 lapisan yang mendefinisikan/menggambarkan tahapan yang harus dilalui data yang akan dikirimkan ke perangkat lain melalui sebuah jaringan.

7 lapisan OSI terbagi menjadi 2 bagian, yaitu :
Application Set
Layer 7
Application : Lapisan yang berinteraksi dengan sistem operasi atau aplikasi saat user/pengguna akan mentransfer data atau melakukan aktivitas lainnya yang berbasis jaringan.
Layer 6
Presentation : Mengambil data dari Application Layer dan menerjemahkan/mengkonversi ke dalam bentuk yang dapat dimengerti oleh lapisan selanjutnya.
Layer 5
Session : Melakukan interaksi dengan perangkat penerima (receiver)
Transport Set
Layer 4
Transport : Mengatur aliran data dan melakukan
error-checking saat pengeriman data antar-perangkat.
Layer 3
Network : Menentukan tujuan pengiriman dan pengalamatan data (Logical Addressing)
Layer 2
Data Link : Melakukan pengalamatan data secara fisik (Physical Addressing)
Layer 1
Physical : Mengatur karakteristik jaringan seperti koneksi, media, sinyal, dan hardware.









